Wednesday, June 17, 2009

MENGHADAPI COBAAN (1)

bY: aL mUHAJIRUN

Kondisi Ummat Muslim sekarang sangatlah sulit; mungkin ini adalah hari yang paling sulit yang dihadapi sepanjang sejarahnya berkaitan dengan variasi dan banyaknya penderitaan dan luka yang dalam, konspirasi, kebingungan ummat, perpecahan dan kerusakan dalam tubuh ummat, tidak untuk menyebutkan kelemahan secara umum dan kehinaan sebagaimana sebuah hasil dari musuh-musuh yang telah berkumpul melawan kita di seluruh dunia. Realitas yang terjadi di negeri-negeri Muslim adalah sebuah rangkaian konspirasi ini dan sebuah rencana besar.

Tujuan utama kuffar dalam memerangi Muslim adalah menjauhkan kita dari dien kita, apakah dengan membuat kita menolaknya – seperti sebagian orang yang telah melakukannya – atau dengan membuat kita berhenti melaksanakannya. Dengan segala cara perang akan terus dilanjutkan, sebagaiman Allah SWT berfirman, sampai mereka mendapatkan tujuan mereka atau sampai kita bangkit melawan dan menghancurkan mereka:

“...Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup...” (QS Al Baqarah, 2 : 217)

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran....” (QS Al Baqarah, 2: 109)

Dalam atmosfir ini sebuah pertanyaan muncul dalam benak dan pemikiran pemuda yang mendukung dien dan berjuang untuk menerapkannya. Kita melihat mereka dan setiap orang yang bertanya: Apa peranku dalam realitas ini? Bagaimana seharusnya aku berhadapan dengan lawan dan musuh-musuh ini yang penuh dengan kejahatan dan kebencian, apa peran yang harus aku mainkan dalam fitnah ini?

Bisa jadi sikap mengalah masuk ke dalam hati dan pemikiran orang-orang, ragu bahwa mereka bisa mengubah kondisi sekarang dengan memerintahkan ummat untuk kembali kepada kemuliaan dan kehormatannya. Pemikiran seperti ini adalah salah karena apapun situasinya kita harus yakin bahwa ummat ini telah diberkahi satu hal untuk mencapai kemenangan sepanjang itu dipercayakan kepada Allah SWT dan semua maksud dan alasan Allah SWT telah membuatnya dipilih sebagai pemenang:

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At Taubah, 9: 33)

Bagaimana kita menghadapi krisis dan fitan ini agar bisa keluar darinya, aman dari segala keputusasaan dan kekalahan serta pada saat yang sama bisa memenuhi kewajiban kita? Kita akan seperti pokok poin tertentu, dan tonggak dalam apa yang mungkin kita lakukan di masa fitan.

Pertama dan utama adalah berpegang teguh pada tali Allah SWT, yaitu wahyu, karena Allah SWT berfirman:

“...Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Ali Imran, 3: 101)

Telah diriwayatkan dalam Musnad Al Hakim bersumber dari Abu Hurairah bahwa RasuluLlah SAW bersabda:

“Aku meninggalkanmu dua hal, jika kamu berpegang teguh padanya kamu tidak akan tersesat setelah aku, Kitab Allah dan Sunnahku serta mereka tidak akan terpisah sampai mereka kembali kepadaku di telaga (Haud).

Juga telah diriwayatkan dalam Abu Daud bersumber dari Irbaad bin Saariyah bahwa RasuluLlah SAW bersabda:

“Sungguh, salah satu diantara kalian akan melihat sejumlah konflik dan perselisihan; selanjutnya, ikutilah Sunnahku dan sunnah para shahabatku, berpegang teguhlah padanya dengan gigi gerahammu dan berhati-hatilah terhadap bid’ah, sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.”

Selanjutnya berpegang teguh pada wahyu adalah pelindung dari segala perpecahan dan kegagalan (di dunia ini dan nanti) serta itu adalah jaminan dari jalan Allah SWT terhadap kesesatan, dan inilah yang disebut dengan Al-I’tisam. Allah SWT berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...” (QS Ali Imran, 3: 103)

Berpegang pada wahyu bukanlah sekedar perkataan yang diulang-ulang tanpa melaksanakannya dalam realitas. Al-I’tisam adalah sebuah perbuatan, mengikuti adalah sebuah perbuatan, dan mengikuti ini adalah dalam semua sisi kehidupan. Masalah ini akan menjadi lebih besar dan lebih menonjol di masa fitan, krisis dan kebingungan ketika kita harus kembali kepada petunjuk dari dua sumber wahyu ini dengan tujuan untuk mencari keselamatan kita, Insya Allah.

Kedua petunjuk tentang bagaimana berhadapan dengan fitan adalah benar-benar bertobat yang merupakan kewajiban dan lebih diwajibkan kepada kita dalam waktu ini dibandingkan waktu-waktu lainnya. Allah SWt berfirman:

“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka...”

(QS Al An’aam, 6: 43)

0 comments:

Post a Comment

Template by:
Free Blog Templates